menyaksikan yang menyiksakan

By - dwi lestari On - Senin, 30 September 2013 1 komentar

I
Dengarkan aku
Semenjak senja menjadi saksi diantara duduk kita
Kamu ada dan menjadi nyata bagi relung yang para dewa menyebutnya cinta
Kuagungkan segala yang tentang engkau,
Tentang bagaimana kamu yang menari di setiap aliran darahku
Menjadi tujuan setiap langkah jejakku

Malam ini aku menunggu bulan di pertengahan
Menarikan hasrat menitipkan segala harap
Namun kau sambut segala sembahku dengan ketidakpedulianmu
Sorot yang  menitipkan segala keangkuhan , merobek angan yang ku sebut kita
Meluruhkan genggaman di antara beberapa iringan kenangan

Cukup,
Kau tak perlu menjadi ia yang aku cintai
Tak harus menjadi ia yang aku ingin rengkuh di malam sunyi
Tak perlu lagi menjadi ia yang ku sebut bahagiaku

II
Ada beberapa kata yang tak bisa di katakan, di terjemagkan bahkan tak bisa di kalimatkan
Kata-kata yang tak sengaja di alamatkan pada pori-pori kulit yang tengah tergoreskan
Sorot-sorot yang menatap tajam di haribaan menyangsikan tanpa menyaksikan

Luka duka yang tak berdosa
Menatap nanar perlahan
Dusta-dusta pengantar kabar
Menjilat menggerogoti kelakar

Ini amvang saru
Yang di tegur pilu
Ia beringsut haru
Di sisinya, kesaksian yang menyesakkan sekaligus menyiksakan
Di hamparan tawa-tawa sendu
Ada jerit pilu melantun syahdu nan khusu

III
Melihat tapi tak bisa bertutur kata
Mengalami tapi tak bisa mengungkapkan
Merasakan tapi tak bisa terucap
Mungkin hanya air mata yang mampu berbicara

Menyaksikan yang menyiksakan
Hati terasa tercabik
Jantung terasa tak berdetak
Emosi serasa tertahan
Air mata lah yang diluapkan

Saat cinta berpaling di depan mata
Cinta memilih hati yang lain
Saat cinta tak mau menoleh
Cinta tetap bertahan
Menoreh luka yang mendalam

Bak bunga tak bermekar lagi
Hanya kuncup yang terlihat
Bahkan tak dihiraukan
Hingga layu dan jatuh
Saat itulah menyaksikan yang menyiksakan

IV
Suatu ketika saat kau bertanya “Apa yang kau sukai?”
Angin, jawabku
Aku tak mengerti mengapa aku menyukainya
Angin seperti dirimu
Yang menghembuskan aroma cinta dan pergi begitu saja
Angin seperti dirimu
Membawa kesejukan namun menyesakkan
Mencintaimu sangat melelahkan
Seperti menunggu mekarnya mawar dalam pelukan salju
Namun aku menikmatinya, karena aku begitu menyukaimu
Aku akan menunggu hembusan angin itu
Hembusan angin yang akan membawamu kembali padaku
Hembusan cinta yang akan meleburkan kita menjadi satu
Meski menunggumu akan memakan seluruh waktuku
Aku akan tetap berdiri disini
Di ambang yang kau buat dulu
Masih ambang yang sama
Saat kau berusaha pergi dariku.

V
Berjalan saat ku menatap
Menatapku ketika kumelihat
Bukan siksaku tapi atriku
Menyaksikanmu menyiksaku

Dalam gundahku ku melangkah
Melangkahku penuh lelah
Lelah menyiksa dalam saksian
Sebuah cerita tak sejalan

Saksikan ku dalam kesedihan
Tak sesuai hati dalam saksian
Kini kusadari dalam perasaan
Sebuah cerita yang menyiksakan

Dalam sebuah mata yang menyaksikan

VI
Enyah, enyahlah!!
Bisakah kau enyah dari pelupuk mataku
Saat nadiku mengejang melihatmu?
Menusukimu dengan hujaman tatap tak akan berarti banyak
Dengan sekali berpaling, usar sudah perlawananku.
Bagaimana aku menyiksamu dengan kesakitan yang sama
Bagian mana yang harus kurobek darimu?
Laku dan tatapku tak cukup menjadi belatitajam untuk mengoyak
Yah, betahlah apa yang ku benci
Teruslah berbuat sesuka hati..
Koyak saja aku selagi aku belum meremuk..
Lumat saja sampai memerah...
Hingga desah ganjil keluar dari mulutku
Enyahlah!!!


pengen sama kamu

By - dwi lestari On - Minggu, 22 September 2013 0 komentar
pengen sama kamu. 
uda gitu aja.