dan masih tentang kamu

By - dwi lestari On - Senin, 19 Agustus 2013 3 komentar
~ untuk yang pernah menangis di hadapanku ~

Di kesorean yang semakin hilang
Namun bayang-bayang masih saja tersimpan
Dari kejauhan setitik penerangan meredup meremang
Hingga kau tak tampak lagi di seberang
Bagaimana bisa aku diam dalam tenang
Menyaksikan keheningan yang menyiksakan
Diammu perlahan mangaduk-aduk kecamuk penuh kalut
Mengusir jenuh kebahagian

Dalam kata-kata
Kamu sajak tersirat yang pernah ku tulis dalam nadi
Mengalir mengikuti alur jantung
Entah bagaimana, kini kau jadi racun di tubuh ini
Jantungku enggan berdetak lagi
Tubuh ini kaku membiru
Sudah tanpa suara

Haruskah ada sebuah alasan?
Jika kekuasaan masih saja kau pegang
Menentangpun aku percuma
Ada kalanya yang di inginkan hanya enyah dari butir-butir larasmu
Biar aku tenang dalam alamku

Bersama sobekan khayalan yang masih tentang kamu

masih tentang kamu

By - dwi lestari On - Kamis, 15 Agustus 2013 0 komentar
Belum lelah aku berdiri di sini
Di sudut ruang yang penuh sesak dengan lapak – lapak rindu
Aku hanya bisa menatapmu dari tempat yang bernama angan
Dengan teropong keandaian, dengan lensa keimajinasian
Berharap latar ilalang dengan jalan tanpa bebatuan
Tapi rasanya itu hanya sebuah kesalahan harap

Kau membawakan pecahan kaca
Layaknya mengingatkan kala itu aku yang menjatuhkannya
Lalu kau diam, meninggalkanku dengan segala kecemasan

Sebelum itu,
Kita pernah di jalan yang sama namun bersebrangan
Tentang kamu yang ingin kenyataan, namun ku berikan angan
Tentang kamu dengan mimpi mimpimu
Tentang kamu dengan sejuta imajinasimu
Yang setelah itu tetiba saja kau mebisu

Entahlah, menjelang pagi aku ingin membangunkanmu
Menyiapkan teh hangat dan semeja denganku
Melukiskan jejak - jejak 
Biar saja kita mengacaukan pasir, asal itu denganmu
Karena harapku masih tentang kamu

macet #CeritaDariKamar

By - dwi lestari On - Senin, 12 Agustus 2013 0 komentar
Ah sudahlah,cerita dari kamarnya macet -_-.

Kipas Bahulak #CeritaDariKamar

By - dwi lestari On - Selasa, 06 Agustus 2013 0 komentar
6

Ini kipas bukan sembarang kipas, ini kipas peninggalan Nenek. Nenek udah pulang ke Rahmatullah hampir 12 th lalu, waktu aku kelas 4 SD. Dulu Nenek tinggal di Sumatra,tepatnya di Lubuk hatiku eh Lubuk Linggau maksudnya. Meskipun beliau tinggal di Sumatra, namun juga sering pulang ke Jawa, sekedar nengok anak/mantu maupun cucunya. Dulu sempat sama Ayahku, Nenek nggak boleh lagi balik ke Sumatra, karena beliau tinggal seorang diri dan juga mengingat umurnya kian renta, pastilah kadang suka sakit. Nah pas pulang tu biasanya beliau bawa oleh-oleh, termasuk suka bawa alat perabot rumah tangga. Salah satunya kipas ini, yang hingga kini masih hidup dan berfungsi sangat normal layaknya kipas- kipas yang lain.

Suling Bambu #CeritaDariKamar

By - dwi lestari On - Senin, 05 Agustus 2013 1 komentar
5
Suling ini punya cerita sendiri. Waktu itu lagi jalan-jalan sama temen SMA, namanya Rohma Widiasih. Aku manggilnya “mil” (dari kata “ma”). Temenku yang ini cara ngomongnya mirip banget sama Gita Gutawa *menurutku sih. Nah waktu itu aku sengaja main sama dia, rencana awalnya sih mau ke Gembira Loka, tapi jadi melenceng nggak karuan. Berawal dari shelter terminal Jombor (kita pergi naik Trans Jogja, biar gak capek + panas), berjalan beberapa puluh menit, kita uda sampai di shelter yang deket Gembira Loka itu, tapi di situ kita malah ribut nentuin mau jadi masuk apa maen ke tempat lain (sedikit labil). Akhirnya kita putusin buat makan dulu, karna belum sarapan pas mau berangkat, kita makan di salah satu tempat makan daerah situ. Beberapa menit kemudian akhirnya selesai makan, nah habis itu kita masih nerusin debat (astaga, ribet amat sih). Akhirnya berunding lagi kita nggak jadi ke bonbin, terus mutusin ke Shoping, karena mau nyari buku juga. Pas sampe di shelter depan Taman Pintar, langsung deh ke Shopingnya tapi nggak jadi beli buku karena stoknya habis, akhirnya lanjut jalan lagi. Muter-muter nggak jelas dan nyampe ke Alun-Alun Utara , nggak lama balik lagi ke titik nol km. Nah kita berhenti di samping pos polisi itu loh sambil beli minum, terus ada penjual mainan tradisional gitulah pokoknya. Kebetulan penjual tadi lagi mainin suling bambu, berhubung penasaran, aku iseng nanya. Eh kepingin juga dan akhirnya kebeli dengan harga Rp. 8000,- dari harga awal Rp. 10000,- . aku nggak berani nawar terlalu rendah, kasian juga penjualnya soalnya uda tua.

sket #CeritaDariKamar

By - dwi lestari On - Minggu, 04 Agustus 2013 0 komentar
4
Nah kalo yang ini sket wajah dari fotoku setahun yang lalu, ini yang buat temen kuliahku, Desi namanya. Pas awal-awal masuk kuliah semester 2, kan kegiatan belum terlalu padet tu, jadi di kelas tu kadang cuma nongkrong, kebetulan si temenku Desi ini bawa buku buat sket gitu, ya udah aku iseng aja minta buat di sket in sama dia, eh mau juga ternyata. Akhirnya aku tempel di dinding kamar. Suatu saat, Ibuku masuk kamar, dan nanyain “Itu gambarnya siapa? Pacar?”. Haha, bikin syok aja, ya maklum lah nggak ngenalin gambarnya, posenya aja sok cool gitu, lagian itu di sket dari foto pas rambutku masih pendek, kalo sekarang mah uda panjang.

Singa Merah #CeritaDariKamar

By - dwi lestari On - Sabtu, 03 Agustus 2013 0 komentar
3


Singa merah ini ada di atas meja belajar, posisinya selalu di tengah-tengah (belum lama pindah dari laci meja).  Waktu itu di beli dari tukang jualan perabot rumah tangga (Rp. 10000,- dapat 3 macam ). Sampe sekarang udah berumur hampir 8 bulan, dan percaya nggak percaya singa itu belum ke isi satu rupiahpun (sedih amat). Sekitar sebulan lalu pernah aku masukin selembar uang pecahan sepuluh ribuan, tapi baru seminggu yang lalu aku ambil lagi gara-gara mau beli pulsa modem. Keuangannya kok syurem banget sih hahaha.

Lihatlah Aku

By - dwi lestari On - 0 komentar
Dedicated : Nisa Rahma . P
  
Sepenuhnya menginginkanmu adalah bagian termustahil dalam hidupku
Bukan karena apa, namun lebih ke rasa yang enggan menyakiti apalagi melukai
Demi lengkung manis bak bulan yang tanggal sembilan
Demi rona bak senja pukul lima
Demi linangan tetes mata bak rintikan pertama kala hujan menyapa
Demi segalanya, raut wajah yang muram durja
Aku bersumpah untuk tak kan membiarkannya
Hanya saja “aku bisa apa?”masih sering menggaung menghantui
Sungguh sejatinya aku bernafas tanpa bayangmu yang enggan juga lepas
Tentang waktu yang setia menghadirkan kata juga rindu
Berharap kau kutuk aku untuk mengiringi malam mu
Memeluk angin juga angan
Tapi aku hanya tak ingin pertemuan nanti menghadirkan sesak apalagi sesal
Aku memilih mengalah menepi di dermaga mimpi
Bersemayam bersanding emosi
Sampai nanti air matamu tak lagi bercerita tentang sunyi, sepi menyapa patah hati


gitar #CeritaDariKamar

By - dwi lestari On - Jumat, 02 Agustus 2013 0 komentar
#CeritaDariKamar
2


Sudah sejak SMA kelas 1(2008) menghuni pojokan kamar. Waktu itu pas pergi ke salah satu swalayan, tiba-tiba pengen beli gitar. Ya udah deh akhirnya di beli juga. Nah gitar ini jadi teman mengisi waktu kalau lagi sendirian, nggak ada kerjaan, sampe kalo lagi badmood. Dan hingga detik ini satu lagupun aku nggak bisa. Hahaha, sumpah ini jadi semacam dendam sama gitar. Padahal buku panduannya ada, tapi kalo pas main gitar cuma sekedar “jrang..jreng” aja. 

8 x 5 #CeritaDariKamar

By - dwi lestari On - Kamis, 01 Agustus 2013 0 komentar
#CeritaDariKamar
1

Tepat dibawah cermin, kertas foto berukuran 8cm x 5cm terpampang wajah Ibu dan Ayah. Sengaja aku letakkan di bawah cermin berukuran besar di kamarku, agar setiap saat aku dapat melihatnya. Habis mandi, dandan, mau pergi, mau tidur, sampai bangun tidur akan jelas terlihat. J J  J

namun aku bisa apa?

By - dwi lestari On - 2 komentar
Tak ada pekerjaan menyenangkan selain memejamkan mata bersama datangnya bayanganmu. Kesekian kalinya aku merasakan ini yang jelas semakin menyesakkan dadaku. Mungkin namamu yang tergurat di nadi kananku. Atau mungkin juga sudah terpatri dalam sanubari. Namun aku bisa apa?

 Ingin rasanya kupinang kebahagiaan bersamamu. Tidur bersamamu di padang bintang. Mendiami rumah sajak-sajak kedamaian. Namun aku bisa apa? Selama rasa masih kau sembunyikan dibalik kerasnya batu egomu. Nadi ini tak akan pernah selaras berdetak dengan jantung.

Beberapa musim aku membeku bersama senja wajahmu. Mengembara bersama kelamnya masa lalu. Lilin- lilin menyala tak mampu jadi penerang. Hanya percaya pada kunang-kunang. Namun aku bisa apa?

Rintikan hujan yang berlarian menjadi rutinitas di subuh hari. Seakan membangunkanku dari cemasnya isi hati. Berdiam didepan perapian, tapi abu lebih sayang. Namun aku bisa apa?

Mengikuti alur denyut nadimu, menjadikanmu detak setiap detik di jantungnku.