atau senja

By - dwi lestari On - Rabu, 19 Juni 2013 0 komentar
Teruntuk yang terhebat
Jangan menyanderaku. Ilusi tentang pelukanmu sedang menggerogoti. Membuat jantung ini pecah dan berdarah. Iya, aku kalah, matamu cukup membuatku kesakitan ketika aku menatapmu dari kejauhan.  Membatu di dadaku. Semakin susah payah aku menyapu sumpah serapah yang pernah engkau muntahkan di bagian kanan lenganku. Memakamkan bayangmu di ufuk mataku. Lalu kamu tiba-tiba saja mengabu satu berpayung awan. Atau hanya aku saja yang sedang berilusi meringkuk rusuk dalam kotak 3dimensi? Rasanya tidak,  dalam detak tiap detik tak berjarak aku selalu menunggu untuk bisa menyulam angan semesta atau di batas senja.

Dan aku muak dengan peta ini. Entah karena jenuh atau karena memang sudah mengapung di lautan halusinasi.