sebelumnya, pernah?

By - dwi lestari On - Selasa, 17 Desember 2013 0 komentar


Selama ini aku berusaha mengerti apa mauku sendiri, memahami apa tujuanku. Namun kadang ditengah jalan aku merasa lelah. Sama seperti apa yang pernah kamu katakan. Di saat itu pula aku baru mengerti betapa jauhnya aku melangkah. Coba tengok sebentar, dulu, waktu aku dan kamu masih sering beradu argumen yang mungkin menurutmu itu hanya membuang-buang waktu saja, namun tetap saja masih terus terulang. Atau mungkin memang aku dan kamu hanya bisa seperti itu saja. Tapi saat ini aku bisa setengah langkah lebih dari sebelumnya, aku berani menyayangimu, aku berani menyentuhmu. Berengsek? Iya aku tahu, tapi aku lebih berengsek lagi kalo aku hanya diam dan tidak jujur pada siapapun, aku dan kamu misalnya. Dan kamu, aku masih saja bertanya-tanya apa yang sebenernya kamu inginkan? Meskipun pernah kamu mengungkapkannya, aku tidak mau tahu tentang jawaban itu. Biarkan saja aku tetap bertanya, sampai kamu pada ke~putus~anmu. Lambat laun, aku mengerti kalau aku butuh kamu. Sama, seperti apa yang dulu kamu tuliskan jika itu memang benar kamu yang menuliskan.

10.45 | desember 2013

sekarang

By - dwi lestari On - 0 komentar
Tentang apa yang aku ungkapkan kepadamu
Sejauh ini masih berharap
kamu

yogyakarta, desember 2013

waktu

By - dwi lestari On - Senin, 16 Desember 2013 0 komentar
aku pernah sayang
lalu berharap
kamu yang menggenggam

yogyakarta, 2013

ketika kata

By - dwi lestari On - 0 komentar
sajakmu bercerita
tentang apa yang kamu rasa
sayang, bukan hanya dia
atau aku saja

desember, 2013

terakhir

By - dwi lestari On - 0 komentar
sepenggal kata sepeninggalanmu
sayang.. 

16 desember 2013

~~

By - dwi lestari On - Senin, 07 Oktober 2013 1 komentar

yang pernah aku katakan sih "sama-sama pelarian" (dari kamu)

pernah?

By - dwi lestari On - 0 komentar
Pernah suka sama temen dekat? Pernah.
Pernah pengen makan bareng si dia? Sering.
Pernah ngebayangin main ke tempat romantis cuma berdua sama dia? Pernah dan pengen banget.
Pernah pengen ngasih kado ke dia tapi takut di tolak? Sering.
Pernah cemburu gara-gara dia main/ jalan sama temen yang lain? Pernah.
Pernah di buat salah tingkah sama dia? Sering.
Pernah...pernah..pernah...

Banyak banget pertanyaan-pertanyaan tentang khayalan-khayalan tak terealisasikan tentang kamu dan dia kan? Sudah mulai ada yang terjwab? Kalo aku sih belum (curhat sik). Hati- hati lho, sekarang banyak penjahat php, yang suka narik ulur perasaan gitu deh pokoknya. Kalo perasaanmu dari bahan plastik jangan sekali-kali mencoba deh, gampang patah kalo kebanting dan jatuh.

Kalo ketemu sama orang yang suka kayak gitu hal yang perlu kamu lakukan adalah bilang “cukup tau” dan segera berlalu. Haha. Nah tapi kalo uda terlanjur kecantol , kamu perlu usaha keras buat lepas dari kaitannya dia, nah kamu cukup cari obyek menarik lainnya buat pelarian kamu nantinya. Ini bukan kejahatan tapi ini adalah perjuangan korban PHP. Sekali lagi perjuangan.

menyaksikan yang menyiksakan

By - dwi lestari On - Senin, 30 September 2013 1 komentar

I
Dengarkan aku
Semenjak senja menjadi saksi diantara duduk kita
Kamu ada dan menjadi nyata bagi relung yang para dewa menyebutnya cinta
Kuagungkan segala yang tentang engkau,
Tentang bagaimana kamu yang menari di setiap aliran darahku
Menjadi tujuan setiap langkah jejakku

Malam ini aku menunggu bulan di pertengahan
Menarikan hasrat menitipkan segala harap
Namun kau sambut segala sembahku dengan ketidakpedulianmu
Sorot yang  menitipkan segala keangkuhan , merobek angan yang ku sebut kita
Meluruhkan genggaman di antara beberapa iringan kenangan

Cukup,
Kau tak perlu menjadi ia yang aku cintai
Tak harus menjadi ia yang aku ingin rengkuh di malam sunyi
Tak perlu lagi menjadi ia yang ku sebut bahagiaku

II
Ada beberapa kata yang tak bisa di katakan, di terjemagkan bahkan tak bisa di kalimatkan
Kata-kata yang tak sengaja di alamatkan pada pori-pori kulit yang tengah tergoreskan
Sorot-sorot yang menatap tajam di haribaan menyangsikan tanpa menyaksikan

Luka duka yang tak berdosa
Menatap nanar perlahan
Dusta-dusta pengantar kabar
Menjilat menggerogoti kelakar

Ini amvang saru
Yang di tegur pilu
Ia beringsut haru
Di sisinya, kesaksian yang menyesakkan sekaligus menyiksakan
Di hamparan tawa-tawa sendu
Ada jerit pilu melantun syahdu nan khusu

III
Melihat tapi tak bisa bertutur kata
Mengalami tapi tak bisa mengungkapkan
Merasakan tapi tak bisa terucap
Mungkin hanya air mata yang mampu berbicara

Menyaksikan yang menyiksakan
Hati terasa tercabik
Jantung terasa tak berdetak
Emosi serasa tertahan
Air mata lah yang diluapkan

Saat cinta berpaling di depan mata
Cinta memilih hati yang lain
Saat cinta tak mau menoleh
Cinta tetap bertahan
Menoreh luka yang mendalam

Bak bunga tak bermekar lagi
Hanya kuncup yang terlihat
Bahkan tak dihiraukan
Hingga layu dan jatuh
Saat itulah menyaksikan yang menyiksakan

IV
Suatu ketika saat kau bertanya “Apa yang kau sukai?”
Angin, jawabku
Aku tak mengerti mengapa aku menyukainya
Angin seperti dirimu
Yang menghembuskan aroma cinta dan pergi begitu saja
Angin seperti dirimu
Membawa kesejukan namun menyesakkan
Mencintaimu sangat melelahkan
Seperti menunggu mekarnya mawar dalam pelukan salju
Namun aku menikmatinya, karena aku begitu menyukaimu
Aku akan menunggu hembusan angin itu
Hembusan angin yang akan membawamu kembali padaku
Hembusan cinta yang akan meleburkan kita menjadi satu
Meski menunggumu akan memakan seluruh waktuku
Aku akan tetap berdiri disini
Di ambang yang kau buat dulu
Masih ambang yang sama
Saat kau berusaha pergi dariku.

V
Berjalan saat ku menatap
Menatapku ketika kumelihat
Bukan siksaku tapi atriku
Menyaksikanmu menyiksaku

Dalam gundahku ku melangkah
Melangkahku penuh lelah
Lelah menyiksa dalam saksian
Sebuah cerita tak sejalan

Saksikan ku dalam kesedihan
Tak sesuai hati dalam saksian
Kini kusadari dalam perasaan
Sebuah cerita yang menyiksakan

Dalam sebuah mata yang menyaksikan

VI
Enyah, enyahlah!!
Bisakah kau enyah dari pelupuk mataku
Saat nadiku mengejang melihatmu?
Menusukimu dengan hujaman tatap tak akan berarti banyak
Dengan sekali berpaling, usar sudah perlawananku.
Bagaimana aku menyiksamu dengan kesakitan yang sama
Bagian mana yang harus kurobek darimu?
Laku dan tatapku tak cukup menjadi belatitajam untuk mengoyak
Yah, betahlah apa yang ku benci
Teruslah berbuat sesuka hati..
Koyak saja aku selagi aku belum meremuk..
Lumat saja sampai memerah...
Hingga desah ganjil keluar dari mulutku
Enyahlah!!!


pengen sama kamu

By - dwi lestari On - Minggu, 22 September 2013 0 komentar
pengen sama kamu. 
uda gitu aja. 

dan masih tentang kamu

By - dwi lestari On - Senin, 19 Agustus 2013 3 komentar
~ untuk yang pernah menangis di hadapanku ~

Di kesorean yang semakin hilang
Namun bayang-bayang masih saja tersimpan
Dari kejauhan setitik penerangan meredup meremang
Hingga kau tak tampak lagi di seberang
Bagaimana bisa aku diam dalam tenang
Menyaksikan keheningan yang menyiksakan
Diammu perlahan mangaduk-aduk kecamuk penuh kalut
Mengusir jenuh kebahagian

Dalam kata-kata
Kamu sajak tersirat yang pernah ku tulis dalam nadi
Mengalir mengikuti alur jantung
Entah bagaimana, kini kau jadi racun di tubuh ini
Jantungku enggan berdetak lagi
Tubuh ini kaku membiru
Sudah tanpa suara

Haruskah ada sebuah alasan?
Jika kekuasaan masih saja kau pegang
Menentangpun aku percuma
Ada kalanya yang di inginkan hanya enyah dari butir-butir larasmu
Biar aku tenang dalam alamku

Bersama sobekan khayalan yang masih tentang kamu

masih tentang kamu

By - dwi lestari On - Kamis, 15 Agustus 2013 0 komentar
Belum lelah aku berdiri di sini
Di sudut ruang yang penuh sesak dengan lapak – lapak rindu
Aku hanya bisa menatapmu dari tempat yang bernama angan
Dengan teropong keandaian, dengan lensa keimajinasian
Berharap latar ilalang dengan jalan tanpa bebatuan
Tapi rasanya itu hanya sebuah kesalahan harap

Kau membawakan pecahan kaca
Layaknya mengingatkan kala itu aku yang menjatuhkannya
Lalu kau diam, meninggalkanku dengan segala kecemasan

Sebelum itu,
Kita pernah di jalan yang sama namun bersebrangan
Tentang kamu yang ingin kenyataan, namun ku berikan angan
Tentang kamu dengan mimpi mimpimu
Tentang kamu dengan sejuta imajinasimu
Yang setelah itu tetiba saja kau mebisu

Entahlah, menjelang pagi aku ingin membangunkanmu
Menyiapkan teh hangat dan semeja denganku
Melukiskan jejak - jejak 
Biar saja kita mengacaukan pasir, asal itu denganmu
Karena harapku masih tentang kamu

macet #CeritaDariKamar

By - dwi lestari On - Senin, 12 Agustus 2013 0 komentar
Ah sudahlah,cerita dari kamarnya macet -_-.

Kipas Bahulak #CeritaDariKamar

By - dwi lestari On - Selasa, 06 Agustus 2013 0 komentar
6

Ini kipas bukan sembarang kipas, ini kipas peninggalan Nenek. Nenek udah pulang ke Rahmatullah hampir 12 th lalu, waktu aku kelas 4 SD. Dulu Nenek tinggal di Sumatra,tepatnya di Lubuk hatiku eh Lubuk Linggau maksudnya. Meskipun beliau tinggal di Sumatra, namun juga sering pulang ke Jawa, sekedar nengok anak/mantu maupun cucunya. Dulu sempat sama Ayahku, Nenek nggak boleh lagi balik ke Sumatra, karena beliau tinggal seorang diri dan juga mengingat umurnya kian renta, pastilah kadang suka sakit. Nah pas pulang tu biasanya beliau bawa oleh-oleh, termasuk suka bawa alat perabot rumah tangga. Salah satunya kipas ini, yang hingga kini masih hidup dan berfungsi sangat normal layaknya kipas- kipas yang lain.

Suling Bambu #CeritaDariKamar

By - dwi lestari On - Senin, 05 Agustus 2013 1 komentar
5
Suling ini punya cerita sendiri. Waktu itu lagi jalan-jalan sama temen SMA, namanya Rohma Widiasih. Aku manggilnya “mil” (dari kata “ma”). Temenku yang ini cara ngomongnya mirip banget sama Gita Gutawa *menurutku sih. Nah waktu itu aku sengaja main sama dia, rencana awalnya sih mau ke Gembira Loka, tapi jadi melenceng nggak karuan. Berawal dari shelter terminal Jombor (kita pergi naik Trans Jogja, biar gak capek + panas), berjalan beberapa puluh menit, kita uda sampai di shelter yang deket Gembira Loka itu, tapi di situ kita malah ribut nentuin mau jadi masuk apa maen ke tempat lain (sedikit labil). Akhirnya kita putusin buat makan dulu, karna belum sarapan pas mau berangkat, kita makan di salah satu tempat makan daerah situ. Beberapa menit kemudian akhirnya selesai makan, nah habis itu kita masih nerusin debat (astaga, ribet amat sih). Akhirnya berunding lagi kita nggak jadi ke bonbin, terus mutusin ke Shoping, karena mau nyari buku juga. Pas sampe di shelter depan Taman Pintar, langsung deh ke Shopingnya tapi nggak jadi beli buku karena stoknya habis, akhirnya lanjut jalan lagi. Muter-muter nggak jelas dan nyampe ke Alun-Alun Utara , nggak lama balik lagi ke titik nol km. Nah kita berhenti di samping pos polisi itu loh sambil beli minum, terus ada penjual mainan tradisional gitulah pokoknya. Kebetulan penjual tadi lagi mainin suling bambu, berhubung penasaran, aku iseng nanya. Eh kepingin juga dan akhirnya kebeli dengan harga Rp. 8000,- dari harga awal Rp. 10000,- . aku nggak berani nawar terlalu rendah, kasian juga penjualnya soalnya uda tua.

sket #CeritaDariKamar

By - dwi lestari On - Minggu, 04 Agustus 2013 0 komentar
4
Nah kalo yang ini sket wajah dari fotoku setahun yang lalu, ini yang buat temen kuliahku, Desi namanya. Pas awal-awal masuk kuliah semester 2, kan kegiatan belum terlalu padet tu, jadi di kelas tu kadang cuma nongkrong, kebetulan si temenku Desi ini bawa buku buat sket gitu, ya udah aku iseng aja minta buat di sket in sama dia, eh mau juga ternyata. Akhirnya aku tempel di dinding kamar. Suatu saat, Ibuku masuk kamar, dan nanyain “Itu gambarnya siapa? Pacar?”. Haha, bikin syok aja, ya maklum lah nggak ngenalin gambarnya, posenya aja sok cool gitu, lagian itu di sket dari foto pas rambutku masih pendek, kalo sekarang mah uda panjang.

Singa Merah #CeritaDariKamar

By - dwi lestari On - Sabtu, 03 Agustus 2013 0 komentar
3


Singa merah ini ada di atas meja belajar, posisinya selalu di tengah-tengah (belum lama pindah dari laci meja).  Waktu itu di beli dari tukang jualan perabot rumah tangga (Rp. 10000,- dapat 3 macam ). Sampe sekarang udah berumur hampir 8 bulan, dan percaya nggak percaya singa itu belum ke isi satu rupiahpun (sedih amat). Sekitar sebulan lalu pernah aku masukin selembar uang pecahan sepuluh ribuan, tapi baru seminggu yang lalu aku ambil lagi gara-gara mau beli pulsa modem. Keuangannya kok syurem banget sih hahaha.

Lihatlah Aku

By - dwi lestari On - 0 komentar
Dedicated : Nisa Rahma . P
  
Sepenuhnya menginginkanmu adalah bagian termustahil dalam hidupku
Bukan karena apa, namun lebih ke rasa yang enggan menyakiti apalagi melukai
Demi lengkung manis bak bulan yang tanggal sembilan
Demi rona bak senja pukul lima
Demi linangan tetes mata bak rintikan pertama kala hujan menyapa
Demi segalanya, raut wajah yang muram durja
Aku bersumpah untuk tak kan membiarkannya
Hanya saja “aku bisa apa?”masih sering menggaung menghantui
Sungguh sejatinya aku bernafas tanpa bayangmu yang enggan juga lepas
Tentang waktu yang setia menghadirkan kata juga rindu
Berharap kau kutuk aku untuk mengiringi malam mu
Memeluk angin juga angan
Tapi aku hanya tak ingin pertemuan nanti menghadirkan sesak apalagi sesal
Aku memilih mengalah menepi di dermaga mimpi
Bersemayam bersanding emosi
Sampai nanti air matamu tak lagi bercerita tentang sunyi, sepi menyapa patah hati


gitar #CeritaDariKamar

By - dwi lestari On - Jumat, 02 Agustus 2013 0 komentar
#CeritaDariKamar
2


Sudah sejak SMA kelas 1(2008) menghuni pojokan kamar. Waktu itu pas pergi ke salah satu swalayan, tiba-tiba pengen beli gitar. Ya udah deh akhirnya di beli juga. Nah gitar ini jadi teman mengisi waktu kalau lagi sendirian, nggak ada kerjaan, sampe kalo lagi badmood. Dan hingga detik ini satu lagupun aku nggak bisa. Hahaha, sumpah ini jadi semacam dendam sama gitar. Padahal buku panduannya ada, tapi kalo pas main gitar cuma sekedar “jrang..jreng” aja. 

8 x 5 #CeritaDariKamar

By - dwi lestari On - Kamis, 01 Agustus 2013 0 komentar
#CeritaDariKamar
1

Tepat dibawah cermin, kertas foto berukuran 8cm x 5cm terpampang wajah Ibu dan Ayah. Sengaja aku letakkan di bawah cermin berukuran besar di kamarku, agar setiap saat aku dapat melihatnya. Habis mandi, dandan, mau pergi, mau tidur, sampai bangun tidur akan jelas terlihat. J J  J

namun aku bisa apa?

By - dwi lestari On - 2 komentar
Tak ada pekerjaan menyenangkan selain memejamkan mata bersama datangnya bayanganmu. Kesekian kalinya aku merasakan ini yang jelas semakin menyesakkan dadaku. Mungkin namamu yang tergurat di nadi kananku. Atau mungkin juga sudah terpatri dalam sanubari. Namun aku bisa apa?

 Ingin rasanya kupinang kebahagiaan bersamamu. Tidur bersamamu di padang bintang. Mendiami rumah sajak-sajak kedamaian. Namun aku bisa apa? Selama rasa masih kau sembunyikan dibalik kerasnya batu egomu. Nadi ini tak akan pernah selaras berdetak dengan jantung.

Beberapa musim aku membeku bersama senja wajahmu. Mengembara bersama kelamnya masa lalu. Lilin- lilin menyala tak mampu jadi penerang. Hanya percaya pada kunang-kunang. Namun aku bisa apa?

Rintikan hujan yang berlarian menjadi rutinitas di subuh hari. Seakan membangunkanku dari cemasnya isi hati. Berdiam didepan perapian, tapi abu lebih sayang. Namun aku bisa apa?

Mengikuti alur denyut nadimu, menjadikanmu detak setiap detik di jantungnku.


alasan?

By - dwi lestari On - Minggu, 28 Juli 2013 0 komentar
Diri ini hanya punya 1 alasan mengapa masih begitu hebat hari ini. 
Ya, alasan itu adalah AKU. 
Karna aku bisa memberikan berjuta-juta alasan lainnya. 
Mereka, Dia, Orang itu, Hal Ini/Itu dan masih banyak lainnya, namun bukan beralasn. 
Dan kini   dari kontemplasi itu agaknya akan memunculkan kembali sesuatu yang dulu pernah ada. 
Hidup memang sebuah catatan. 
Namun kita bisa menghiasinya dengan apapun yang kita mau. 
Sayangnya kadang insan tak sadar dengan alasannya. 
Catatan yang begitu panjang, membuatu mengeluh. 
Ya mengeluh, aku memang mengeluh kenapa catatan ini berisikan materi yang tak ku kuasai. 
Tapi proses menjawab itu semua, "nggak ada gunanya menggarami air laut" itu dia yang membuatku sadar.

masihkah setia?

By - dwi lestari On - 0 komentar
Kamu dengan kesunyianmu
Di tengah hamparan rindu yang membentang
Adakah selain pertemuan yang di ingini?
Biar saja jarak menjadi candu setiap kali ingin bertemu

Gerimis  yang perlu kau tahu
Biar saja ia bercerita banyak tentangmu
Hingga yang kau sebut rindu ikut tersapu

Sayang dusta lebih banyak bicara
Mengakar samudra kepalsuan
Sampai perih tak lagi menjadi fatamorgana


Masih setiakah?

bagaimana sejatinya mimpi

By - dwi lestari On - 0 komentar
Minggu kesekian aku masih menunggu
Berharap cemas segera lepas dari benakku
Melupa bagaimana cara berdoa
Semakin tertatih langkah bayangmu

Malam ini akan kuputuskan
Bagaimana sejatinya mimpi
Yang terlukis abadi di perpaduan malam

Hanya saja aku masih meragukan
Kesanggupan dan ke-iya-an yang selalu mampir dari mulutmu
Apa seharusnya itu membatu?

puasa

By - dwi lestari On - Senin, 08 Juli 2013 1 komentar
Hai, sehat? Semoga. Kapan puasa? Selasa? Rabu? Aku sih Selasa. Kapanpun, Marhaban Ya Ramadhan ,mohon maaf lahir dan batin. Semoga ibadahnya lancar. Sempatkan berbuka puasa bareng aku ya, aku berharap.

atau senja

By - dwi lestari On - Rabu, 19 Juni 2013 0 komentar
Teruntuk yang terhebat
Jangan menyanderaku. Ilusi tentang pelukanmu sedang menggerogoti. Membuat jantung ini pecah dan berdarah. Iya, aku kalah, matamu cukup membuatku kesakitan ketika aku menatapmu dari kejauhan.  Membatu di dadaku. Semakin susah payah aku menyapu sumpah serapah yang pernah engkau muntahkan di bagian kanan lenganku. Memakamkan bayangmu di ufuk mataku. Lalu kamu tiba-tiba saja mengabu satu berpayung awan. Atau hanya aku saja yang sedang berilusi meringkuk rusuk dalam kotak 3dimensi? Rasanya tidak,  dalam detak tiap detik tak berjarak aku selalu menunggu untuk bisa menyulam angan semesta atau di batas senja.

Dan aku muak dengan peta ini. Entah karena jenuh atau karena memang sudah mengapung di lautan halusinasi.


sayangnya nggak mati

By - dwi lestari On - Senin, 13 Mei 2013 0 komentar

Senin 13 Mei 2013, 3.10 pm “rasanya nabrakin diri tu gini ya? Sakit sih,lumayan..” 3.12 pm “;) sayangnya gak mati.”  Entah apa yang terjadi padamu saat ini. Berpura-pura dalam keadaan baikkah, bahagiakah? Aku sungguh tidak mengerti. Mungkin kamu sudah terjebak ranjau di pikiranmu sendiri. Caramu bukan cara yang baik buat menemani “senja” seperti apa yang kamu lontarkan sore tadi. Bukan. Bukan dengan kamu berdiam kosong mencoba bohong. Seolah bukan roh-mu yang ada di dalam-mu. Bertengkar saling berbalik punggung yang seakan mati.
4.29 pm “Tersenyumlah, ku mohon... relakan saja aku memucat.. mengabur.. bukankah sebentar lagi aku mejadi pekat? Jadi mengabur sekarangpun tak masalah... .”  Dulunya aku tak ingin lagi mengikutimu, tapi nyatanya kamu nggak bisa pergi ke seberang sendirian. Masih selalu melangkah tanpa tempo yang selaras dengan nafas.
6.04 pm “aku tidak bisa, membiarkan orang lain ikut hancur bersamaku :)” Lagi-lagi kamu berdalil tentang kebahagian. Omong kosong dengan kebahagiaan kalo kamu masih saja belum mengerti  apa itu penderitaan. Setidaknya pahami orang lain yang ingin mengikuti arah kebahagian sesungguhnya dengan mengajarinya agar tak sehancur dengan apa yang terjadi di kehidupanmu. Bukan dengan seperti itu! ~d.l.d