Suatu Keberartian

By - dwi lestari On - Senin, 09 Juli 2012 0 komentar

Minggu 8 Juli 2012 (23.47 WIB), aku kehilanganmu di acara itu. Entah kau sengaja meninggalkan aku sendirian, atau suatu ketidaksengajaan. Aku mencoba mencarimu di setiap sudut dari pandanganku, tapi kau juga muncul. Mulai bertanya pada orang yang ada disampingku ,“ Maaf, lihat yang tadi ada disini nggak ?”, dan jawaban yang kudapat sedikit mengecewakan “Tidak”. Ku coba terus mencarimu, dan tanpa ku sadari aku orang terakhir yang masih beridiri di tempat itu, masih mencarimu. Mungkin bagi sebagian orang kamu cuma dianggap rontokan daun kering yang harus segera di buang, tapi itu tidak bagiku. Ya, kau Sandal yang uda sekian tahun menemani langkah kakiku kemanapun aku mau pergi. Pasar, pemakaman, rumah, atau kemanapun.. Aku akui, penampilanmu memang sudah tak semenarik dulu. Aku coba memaklumi itu, kurasa pantas dengan usiamu saat ini. 
Ini bukan masalah harga, penampilan atau apapun, tapi cuma karena kau menyimpaan banyak cerita dan kenangan. Buat ku kamu itu satu dan spesial. Dan yang bikin aku kecewa adalah perkataan dari manusia yang kembali menyapaku karena aku masih tetap berdiri di temat yang sama untuk beberapa saat, dengan entengnya ,” Sudahlah, dia udah di bawa orang tadi, pakai yang ini saja (menunjuk)”. Ingin rasanya aku memaki manusia itu, enag saja dia bilang seenteng itu. Tapi apa daya, terpaksa aku jalan tak beralaskan kamu.


Tak berhenti di situ, aku masih harus ikut beres- beres bersama beberapa teman yang lain, seseorang menyapaku, “kenapa kamu?”, dan aku cuma menunjuk kebawah. Untung saja dia tahu maksudku, dan tak kembali mengucapkan kata- kata seperti orang sebelumnya. Tiba- tiba kegiatan berhenti sejenak, dan manusia- manusian itu berusaha mencarikan apa yang aku maksud,nihil. “Kalo dia jodohku, pasti kembali. Terimaksaih.”
Inilah apa yang aku sebut keberartian, tapi mungkin tidak buat manusia- manusia itu.

0 komentar:

Posting Komentar