Surat Merah

By - dwi lestari On - Selasa, 10 Juli 2012 0 komentar

Lagi suka sama lagu surat merah dari Noer Halimah.
Surat Merah
Bukan bukan, bukan aku benci
bukan pula bukan aku sedih
karena kau sakiti
cuma cuma ku tak mau lagi
ini cuma ku tak ingin lagi
sakit kedua kali

kau ingkari kau dustai cukup cukup sudah
terimalah surat merah dari yang kecewa ...

cari caramu sendiri, bawa cintamu sendiri
cari caramu sendiri bawa cintamu
silahkan ..... silahkan
kau bersenang senang
lalu kau bandingkanlah
dia atau aku
andaikan ..... andaikan,
engkau menyadari
surat merah ini
terakhir dariku
kumohon ... kumohon engkau
ikhlas merelakan daku ... pergi ...

Suatu Keberartian

By - dwi lestari On - Senin, 09 Juli 2012 0 komentar

Minggu 8 Juli 2012 (23.47 WIB), aku kehilanganmu di acara itu. Entah kau sengaja meninggalkan aku sendirian, atau suatu ketidaksengajaan. Aku mencoba mencarimu di setiap sudut dari pandanganku, tapi kau juga muncul. Mulai bertanya pada orang yang ada disampingku ,“ Maaf, lihat yang tadi ada disini nggak ?”, dan jawaban yang kudapat sedikit mengecewakan “Tidak”. Ku coba terus mencarimu, dan tanpa ku sadari aku orang terakhir yang masih beridiri di tempat itu, masih mencarimu. Mungkin bagi sebagian orang kamu cuma dianggap rontokan daun kering yang harus segera di buang, tapi itu tidak bagiku. Ya, kau Sandal yang uda sekian tahun menemani langkah kakiku kemanapun aku mau pergi. Pasar, pemakaman, rumah, atau kemanapun.. Aku akui, penampilanmu memang sudah tak semenarik dulu. Aku coba memaklumi itu, kurasa pantas dengan usiamu saat ini. 
Ini bukan masalah harga, penampilan atau apapun, tapi cuma karena kau menyimpaan banyak cerita dan kenangan. Buat ku kamu itu satu dan spesial. Dan yang bikin aku kecewa adalah perkataan dari manusia yang kembali menyapaku karena aku masih tetap berdiri di temat yang sama untuk beberapa saat, dengan entengnya ,” Sudahlah, dia udah di bawa orang tadi, pakai yang ini saja (menunjuk)”. Ingin rasanya aku memaki manusia itu, enag saja dia bilang seenteng itu. Tapi apa daya, terpaksa aku jalan tak beralaskan kamu.


Tak berhenti di situ, aku masih harus ikut beres- beres bersama beberapa teman yang lain, seseorang menyapaku, “kenapa kamu?”, dan aku cuma menunjuk kebawah. Untung saja dia tahu maksudku, dan tak kembali mengucapkan kata- kata seperti orang sebelumnya. Tiba- tiba kegiatan berhenti sejenak, dan manusia- manusian itu berusaha mencarikan apa yang aku maksud,nihil. “Kalo dia jodohku, pasti kembali. Terimaksaih.”
Inilah apa yang aku sebut keberartian, tapi mungkin tidak buat manusia- manusia itu.

Tentang Sore Hari

By - dwi lestari On - Minggu, 08 Juli 2012 0 komentar

Sore adalah perjalanan menuj subuh, sore sangat lembut dan bergerak lamban menuju kekuatan dasyat puncak spiritual. Sore seperti perjalanan transisi memasuki bibir- bibir teluk dari roh semesta.. aku lebih senang duduk bersama dia, sang sore ini... Duduk untuk memasuki gerbang malam. Malam adalah waktu untuk beristirahat, pikiran- pikiran perlahan melambat, hingga sang tidur datang utnuk bergabung dengannya. Tidur yang bijaksana. Kita harus menerima kedatangannya kapanpun di malam hari karena ia adalah tamu sekaligus sahabat Roh Semesta dalam wadah puncak eksistensi..

Keindahan yang Mengalir dalam Kematian

By - dwi lestari On - Kamis, 05 Juli 2012 0 komentar


Induk dari pagi adalah sinar dari ufuk timur, tapi kemudian ia beranak cucu di segala tempat, dingin yang menghangat ; kusebut semua itu!
Tiba- tiba saja sesuatu yang tidak kelihatan melintas... Aku seperti berubah seperti mereka, langkah kakiku terhenti. Engkau tahu bahwa utusan Roh Semesta yang telah memperlakukan aku demikian, menerobos kedalam hati seekor angsa dan mencari di mana letak kesenangannya...

Cinta dan Ego

By - dwi lestari On - Rabu, 04 Juli 2012 0 komentar

Benci dan cinta saling bertautan. Ketika dekat memmbenci, ketika jauh menyayangi! Mungkin cinta melawan ego untuk mengorbankan tubuh kepada seseorang! Maka timbul sayang, kadang- kadang karena tersadar ego berbicara, lalu kebencian / kebosanan muncul! Apa sesungguhnya kasus kehidupan manusia yang satu ini? Ego adalah cetakan yang lebih terakhir masuk kedalam kehidupan di banding apa yang manusia sebut cinta.... Ego menafsirkan cinta menjadi nafsu, setelah itu cinta kembali bekerja meleburkan ego unutk melahirkan keluguan dan kehidupan. Tapi ego selalu merupakan jiwa utuh seseorang dan ia sangat mungkin tersadar lalu menjadi buta terhadap keluguan dan kepolosan hidup tersebut. Atau sebaliknya, secara tidak sadar bekerja untuk kepolosan hidup yang ditemukannya dalam sebuah kotak kecil yang disebut keluarga...(ya)?

Sang Penikmat

By - dwi lestari On - 0 komentar

Pada awalnya aku makhluk biasa saja, tapi jujur ku akui begitu banyak roh keburukan menghantuiku. Hingga lama kelamaan aku menjadi kebal dan semakin kebal. Kekebalan itlulah yang mampu membuatku berteriak pada laut agar kedalaman mereka yang paling kelam dan setan- setannya yang berada di palung paling dalam agar selalu memburuku... Yang pada akhirnya aku di arahkan untuk menjadi penikmat dari segala keburukan dari yagn paling buruk sekalipun. Sehingga dengan demikian masih adakah keburukan di dalam diriku, wahai manuasia??? Ketika aku kembali ke dunia kalian, semua hal yang kalian buruk menjadi berguna dan harum bagiku. Serta, aku akan menjadi seorang yang pemaaf bagi orang- orang yang paling di kucilkan dan di hormati. Ya kalian yang miskin dan yang kaya ...sungguh!

Ia Mengalir

By - dwi lestari On - Selasa, 03 Juli 2012 0 komentar

Ia adalah sebuah bahasa murni kekosongan.. sungguh mereka semua telah memasuki palung penasaran keabadian.. keterjatuhan!

Relung

By - dwi lestari On - 0 komentar

Menuju kedalaman diri
Karena dimensi ruang dan waktu terlempar sedemikian jauh. Hanya kesadaranlah yang mampu berperilaku seperti matahari atau komet yang mampu menjangkau melalui ruang dan waktu dari berbagai budaya dan tradisi.
Oh, aku mendapati sesuatu : semua rumput yang bersahabat dengan matahari selalu mengikuti geraknya, bahkan wajahnya pun menyerupainya.

Kebetulan

By - dwi lestari On - 0 komentar

Kebusukan dari Buah yang Masak
Kubiarkan kakiku melangkah kemanapun Ia mau. Apa yang kutemukan adalah seorang yang mirip kekasih lamaku, yang jantungnya berdebar ... Apa yang terjadi, beberapa hari ini begitu banyak kebetulan- kebetulan yang menimpaku dan semua itu mendesak untuk lari ke dalam kesendirian. Pesona burung yang meliukkan sayap dan lekukan tubuhnya, menghempasku hingga ke masa lalu. Harus ku latih kemampuanku sekarang untuk menjadi penonton yang paling tinggi atas semua benturan pada jiwa terdalamku di saat ini. Andai tidak aku hanya seperti bola-bola karet yang terombang ambingkan tiada henti oleh gelombang- gelombang lautan jiwa yang tanpa Arah.
Terapung memang jiwaku, tapi siapa yang dapat bertahan dengan ketertarikan eksistensi itu? Aku seperti di usir dari tempat dudukku. Hawa di sekelilingku mendesakku untuk beranjak dari tempat ini, tapi Roh Semesta masih dapat berkelit ;“bukankah ini lingkungan baru untukmu?”, bisiknya.
Dalam hatiku: “keadaan brengsek macam apa ini?”